Selamat Datang

Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2012

Inspirasi "Namanya Ucup"


Pertama kali aku melihatnya dari jendela kamarku yang kebetulan menghadap sebuah Sekolah Dasar Negeri. Aneh tapi nyata, sebuah SD Negeri terletak di dalam kompleks perumahan yang cukup elit. Bangunannya sederhana hanya terdiri dari 6 ruang kelas ditambah 1 kantor guru. Tidak ada halaman. Makanya kegiatan bermain, olah raga ataupun upacara bendera dilakukan di jalanan kompleks, persis di depan pagar rumahku.

Di situlah aku pertama kali melihatnya, sedang berdiri di depan tiang bendera. Kepalanya setengah menengadah. Sebelah tangannya menaungi wajah dari silau matahari siang. Beberapa anak yang lebih kecil berkeliling di dekatnya sambil menyoraki. Rasa penasaran yang kemudian membuatku beranjak ke halaman dan menyapa seorang anak yang sedang bersandar di pagar rumahku.

"Dek, anak itu kenapa?" tanyaku sambil menunjuk anak di bawah tiang bendera.

Anak yang kusapa kelihatan kaget. Matanya memicing sejenak melihatku lalu menjawab sambil lalu, "Disetrap."

"Emang kenapa?"

Anak itu menoleh lagi. Mungkin heran melihat kecerewetanku.

"Dia nakal?" tanyaku lagi

"Iya. Berantem dengan kelas 6. Kepala anak kelas 6 itu bocor dijedukin ke tembok."

Setengah tak percaya aku memperhatikan anak yang masih berdiri di bawah tiang bendera. Perawakannya kecil. Lebih tepat dibilang ceking. Taksiranku dia paling baru kelas 3. Kok bisa berantem dengan anak kelas 6?

"Namanya siapa?"

"Siapa?" anak yang kutanya malah balik bertanya.

Aku menunjuk anak yang kumaksud dengan daguku.

"Ucup," anak itu menyahut singkat, lalu berlari ke arah teman-temannya yg sedang main bola.

Sejak itu aku jadi sering memperhatikannya. Hampir tiap pagi dia tiba di sekolah dengan berlari-lari. Seringkali bel sudah keburu berdentang dan akibatnya dia tak boleh masuk kelas. Kalau sudah begitu biasanya kulihat dia bermain-main sendiri di jalanan. Mengejar-ngejar mobil lewat atau mengganggu tukang-tukang jualan.

Dari Ibu-ibu yang biasa nongkrong menunggui anak-anaknya aku tahu kalau Ucup adalah trouble maker di sekolah. Mestinya dia sudah kelas 4. Tapi dua tahun tidak naik kelas, jadi sekarang baru duduk di kelas 2. Tukang berkelahi, selalu terlambat, suka nyolong, suka ngomong jorok, dan masih banyak cerita tak sedap yang membuatku miris.

Pemandangan Ucup berdiri di bawah tiang bendera pun menjadi hal rutin yang kusaksikan hampir tiap hari dari jendela kamarku. Tapi sampai sejauh ini hanya itu saja yang kulakukan. Memperhatikannya dalam diam di balik jendela.

Lalu suatu ketika rutinitas itu hilang. Tiba-tiba aku tak pernah melihatnya lagi berlari-lari supaya tidak terlambat masuk kelas, atau disetrap di bawah tiang bendera. Seorang anak yang kutanyai mengatakan bahwa Ucup sudah dikeluarkan dari sekolah karena untuk ketiga kalinya tidak naik kelas, disamping karena guru-guru sudah kewalahan menghadapi kenakalannya.

Seperti ada rasa yang hilang, tapi cepat tergantikan oleh kesibukan dan waktu yang berjalan.

Sampai suatu ketika aku melihatnya lagi. Kali ini tengah mendorong sebuah gerobak dan mengorek-ngorek tempat sampah di depan rumahku. Lagi-lagi rasa penasaran membuatku memburunya ke depan.

"Kamu Ucup kan?" tanyaku sehalus mungkin, tapi tak urung membuatnya terkejut.

"Kamu dulu sekolah di situ kan?"

Ketika raut terkejutnya hilang, ia balik menatapku dengan sorot menantang. Tutup tong sampahku dibantingnya hingga bergedombrangan. Beberapa cup bekas minuman kemasan yang baru dia ambil dilemparnya ke dalam gerobak.

Aku sedikit terkejut melihat kekasarannya. Tapi sudah kepalang basah.

"Kenapa kamu gak sekolah lagi?"

Tiba-tiba ia meludah ke tanah. Lalu kembali menatapku, kali ini dengan sinis. "Cina!" umpatnya kasar lalu mendorong gerobaknya menjauh, meninggalkanku terpana.

Tanganku terasa gatal ingin menampar mulutnya. Apa haknya mengataiku bahkan meludah di depanku. Aku cuma bertanya baik-baik. Itupun karena rasa simpati yang tak terbendung.

Tapi yang kulakukan kemudian malah diluar dugaanku sendiri. Aku tak tahu ini namanya tolol atau nekat, tapi aku mendapati diriku sedang mengikuti anak tak tahu adat itu. Aku tahu hari sudah sore, dia pasti sudah mau pulang. Aku jadi ingin tahu dimana rumahnya, seperti apa keluarga yang membesarkannya sampai dia jadi seperti itu.

Rasanya aku sudah seperti seorang detektif yang sedang mengikuti buruannya diam-diam dari jauh. Aku melihat dia keluar dari gerbang kompleks, lalu menyusuri jalan raya dan berbelok di sebuah gang kecil. Terus menuju bantaran kali dimana berderet rumah-rumah yang sebetulnya tak layak untuk disebut rumah.

Aku belum pernah menginjakkan kakiku di tempat yang menyedihkan seperti ini. Aroma sampah yang bau menyeruak dari kali yang airnya menghitam karena limbah, membuatku tak sadar menutup hidung.

Buruanku masuk ke sebuah bangunan yang sekelilingnya tertutup seng lapuk. Aku mendekati untuk mengintip. Tak kuhiraukan tatapan heran beberapa orang yang kebetulan melihat.

Bangunan itu ternyata tempat penampungan barang bekas. Di halamannya yang sarat dengan tumpukan macam-macam rongsokan aku melihat empat orang anak yang sebaya dengan Ucup sedang memilah-milah barang. Diantara tumpukan barang yang menggunung ada sebuah gubuk kecil. Seorang Bapak dengan brewok tebal tengah duduk di ambang pintunya, menghisap rokok sambil mengipas-ngipas badan dengan selembar kardus.

"Meunang naon poe ieu?(-Dapat apa hari ini,-Terj)"serunya dalam bahasa Sunda yang kasar ketika melihat Ucup menyandarkan gerobaknya. Dari suaranya yang kasar dan galak, bisa kunilai seperti apa perangainya.

"Saeutik, Bah. Rada rarieut sirah ieu teh (Cuma sedikit, Pak. Kepalaku pusing)," Kudengar nada takut dalam suara pelan Ucup.

Adegan berikutnya diluar dugaanku. Laki-laki brewok itu bangkit dengan marah, mengaduk-aduk gerobak Ucup, lalu tiba-tiba tangannya melayang menampar pipi anak kecil itu. Jerit kesakitannya terdengar berbarengan dengan jerit kagetku.

Ucup terpental jatuh lalu meringkuk sambil memegangi pipinya yang aku yakin sudah memerah.

"Saha eta (Siapa itu)?" Laki-laki brewok itu sekarang menuju pagar tempat aku mengintip. Rupanya ia mendengar teriakanku tadi. Sudah terlambat untuk mengelak, karena pintu tiba-tiba terpentang dan wajah brewoknya muncul tepat di depanku dengan sorot mata mengancam.

Jantungku hampir melorot ke ujung kaki waktu laki-laki bertampang kasar itu tiba-tiba membentak. "Kamu siapa? Ngapain ngintip-ngintip?"

"Saya cari Ucup," sahutku dengan suara digagah-gagahkan. Tentu saja aku sama sekali tidak ingin kelihatan takut dimatanya.

"Ada urusan apa?"

"Cuma ingin tahu kenapa dia tidak lagi sekolah."

"Kamu gurunya?"

"Bukan. Tapi saya..."

"Kalau begitu kamu tidak ada urusan dengan dia sekolah atau tidak." Ia melotot galak.

"Tentu saja ada. Saya dari Komnas perlindungan anak. Anda menyuruhnya bekerja jadi pemulung itu berarti anda sudah melanggar hak-haknya sebagai seorang anak. Ditambah lagi perlakuan anda yang kasar tadi. Saya bisa melaporkan anda dengan tuduhan penganiayaan. Hukumannya sudah pasti tidak ringan." Aku sampai heran sendiri dari mana bisa mendapat kata-kata sepanjang dan selancar itu pada saat jantungku sedang berdebar-debar tak karuan.

"Taik kucing!" laki-laki itu mendengus , "Budak budak aing. Aing nu mere parab. Rek dinaonkeun oge kumaha aing. Rek naon pipilueun? (Anak itu anakku. Aku yang kasih dia makan. Mau diapakan juga terserah padaku. Untuk apa ikut campur?"

"Saya cuma kasihan melihatnya. Dia masih kecil. Harusnya dia bisa sekolah terus, bukan bekerja seperti ini."

"Montong pipilueun! Nyingkah sia tidieu bisi ditampiling ku aing! (Sudah kubilang jangan ikut campur. Pergi dari sini sebelum kugampar!)"

Aku mundur dua tindak waktu laki-laki itu mengangkat tangannya dengan gerakan mengancam.

"Nyingkah! (Pergi!)" serunya lebih keras.

Kali ini kakiku mengambil inisiatif lebih cepat. Sebelum otakku sempat berpikir lagi, aku sudah berlari secepatnya meninggalkan tempat itu. Nyaris tak berhenti hingga sampai ke jalan raya.

Ketika berhenti barulah kurasakan sekujur tubuhku lemas seperti habis kehilangan semua tulang-tulangnya. Keringat mengucur dan degup jantungku begitu keras sampai aku takut semua orang yang lewat di dekatku bisa mendengarnya.

Aku pulang ke rumah dan memutuskan untuk menyimpan rapat-rapat apa yang telah kulakukan barusan.

Beberapa hari lewat dan aku hampir bisa melupakan kejadian itu. Lalu tiba-tiba suatu kali sepulang kuliah aku mendapati Ucup sedang berjongkok di depan pintu pagarku, memperhatikan anak-anak sekolah yang sedang bermain kelereng. Dia berdiri begitu melihatku. Berusaha tersenyum walaupun aku bisa melihat jelas keraguan di matanya.

"Ada apa?" tanyaku, berusaha untuk tidak mengingat lagi kekasaran Bapaknya tempo hari.

"Mau minta maaf," katanya malu-malu.

"Soal Bapakmu? Gak apa-apa. Aku sudah melupakan."

"Lain (Bukan)," ia garuk-garuk kepala, "Basa eta kuring ngomong... Cina. (Waktu itu saya bilang.... Cina.)"

Aku tertawa. "Aku memang Cina. Jadi gak masalah kan?"

Ia garuk-garuk kepala lagi.

"Kamu sudah makan? Tunggu, aku tahu kamu pasti belum makan. Aku akan suruh Mbok bawakan makanan buat kamu. Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana."

Aku melesat ke dalam. Dengan cepat menyuruh Mbok Umi menyiapkan sepiring nasi dan lauk-pauk yang kemudian kubawa sendiri ke depan.

Ucup terpana. Perlu beberapa menit bagiku untuk meyakinkannya bahwa makanan bertumpuk di piring itu memang untuknya dan halal. Tapi akhirnya ia makan juga. Dengan amat lahap bahkan. Mulut kecilnya begitu sibuk antara mengunyah dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku.

Pada akhirnya aku tahu lebih banyak tentang dia, tentang Ibunya yang meninggal waktu dia masih bayi, tentang Abah yang galak dan suka memukul, tentang kenapa ia berhenti sekolah. Dan aku baru paham kenapa dulu itu ia selalu nakal, kasar, suka memberontak. Ternyata dia cuma korban dari kerasnya kehidupan.

Aku jadi tambah simpati. Kutawari dia untuk kerja saja di toko milik Papi. Dia bisa tinggal di belakang toko bersama karyawan lain. Jadi dia tidak perlu lagi menerima perlakuan semena-mena dari Abah. Tapi tanpa kuduga dia langsung menggeleng tegas.

"Kalau saya pergi, terus Abah tinggal sama siapa?" katanya polos. "Biarpun galak, tapi dia sudah merawat saya dari kecil."

"Tapi dia suka mukulin kamu kan?"

"Itu kalau Abah lagi pusing karena gak punya duit."

"Dia juga melarang kamu untuk sekolah kan?"

"Nggak. Saya yang gak mau sekolah lagi. Buat apa?"

"Kamu bisa jadi pintar kalau sekolah. Nanti kamu bisa jadi orang sukses, bukan jadi pemulung seperti ini."

"Abah bilang sekolah gak akan bikin saya jadi kaya. Saya bisa kaya kalau dari sekarang saya kerja rajin dan ngumpulin duit sebanyak-banyaknya."

"Makanya saya tawari kamu kerja. Gajinya lumayan. Kamu bisa beli apa yang kamu mau dan bisa nabung juga." aku setengah memaksanya.

Dia menggeleng lagi. "Saya gak bisa ninggalin Abah."

Sekarang aku benar-benar tak mengerti. Bagaimana dia bisa dengan tegas menolak kehidupan yang mungkin jauh lebih baik hanya untuk seorang laki-laki tua kasar yang cuma tahu memeras tenaganya saja.

Tapi aku juga tahu tak bisa memaksanya. Maka kubiarkan dia dengan pilihannya. Hanya kubantu sedapat mungkin dengan memberikan sebanyak-banyaknya barang bekas yang bisa kutemui di rumah.

Berkali-kali setelah itu aku melihatnya datang dengan bekas pukulan di tangan atau di pipinya. Pernah sekali kutemukan luka di sudut bibirnya. Bahkan pernah juga ada benjolan besar di keningnya yang dia bilang kejeduk lemari. Aku yakin semua itu perbuatan Abah. Tapi Ucup tak pernah mengubah pilihannya. Ia tetap pilih ikut Abah daripada ikut aku. Sebuah pilihan yang tak pernah bisa kupahami hingga sekarang.

Hari ini seperti biasa dia mampir ke rumah. Lagi-lagi kulihat memar di pelipis kirinya. Tapi aku tak lagi ingin bertanya sebab sudah hapal seperti apa jawabannya. Kuberi dia sebutir apel yang langsung dikunyahnya dengan lahap.

Aku baru mau menawarinya makan waktu seorang anak sebayanya datang dan berteriak memanggilnya dengan nada panik.

"Cup, gancang balik, Abah maneh katabrak kareta api. Maot cenah. (Cup, cepat pulang. Abahmu tertabrak kereta api. Mereka bilang meninggal)."

Aku terperangah. Ucup apalagi. Kulihat badannya tiba-tiba gemetar. Wajahnya memucat. Apel yang masih setengah di tangannya jatuh ke tanah lalu menggelinding masuk got.

"Abaaaahhh...!!!" ia berteriak sambil berlari meninggalkan gerobaknya begitu saja.

Aku tak sempat lagi mencegahnya. Tak sempat lagi mengatakan apa-apa. Dia sudah keburu menghilang.

Sejak itu aku tak pernah lagi melihatnya. Gerobaknya yang tertinggal di depan rumah diambil oleh seorang temannya. Dia sendiri entah kemana.

Pernah kucoba mendatangi bantaran kali tempat tinggalnya. Tapi gubuk berpagar seng itu sudah kosong. Seorang Bapak di situ bilang setelah Abah meninggal, Ucup diajak seorang tetangganya kerja di Jakarta lalu tidak pernah ada kabarnya lagi hingga sekarang. Dari Bapak itu juga aku baru tahu bahwa Abah itu sebetulnya bukan ayah kandungnya. Ucup ditemukan oleh Abah ketika berumur 2 tahun sedang terlunta-lunta di pasar. Sejak itu Abah memeliharanya.

Aku meninggalkan tempat itu dengan sebuah pelajaran baru tentang hidup. Ucup yang selalu dibilang nakal, tapi ternyata punya kesetiaan dan kasih sayang pada orang yang pernah menolongnya, betapapun buruk perlakuan orang itu. Abah yang semula kupikir seorang laki-laki kasar dan jahat, tapi ternyata masih punya hati merawat seorang anak kecil yang tak punya siapa-siapa. Padahal kehidupannya sendiri sudah susah.

Jadi jangan menghakimi. Karena penghakiman itu hak Tuhan yang mengetahui segala hal dari awal hingga akhirnya...

Oleh : drackpack.multiply.com

Selasa, 31 Januari 2012

Inspirasi "Gagal"


Peristiwanya tidaklah penting. Tapi, respon pada peristiwa itu adalah segala-galanya.
(I Ching).
Kegagalan menjadi teman akrab dalam kehidupan kita. Siapa yang merasa tidak pernah mengalami kegagalan dalam hidup ini satu kali pun? Hampir dipastikan tidak ada seorang pun …. Ada beragam sikap menghadapi kegagalan.


Sering dalam menghibur kawan yang gagal, kita melontarkan ucapan umum, seperti “kegagalan adalah sukses yang tertunda” atau “kegagalan adalah awal kesuksesan” dan sebagainya. Tentu saja, mantra positif itu diucapkan dengan tulus dan menambah semangat. Namun, kalimat itu sering kita pakai lantaran kita tidak tahu apa yang harus kita katakan. Jadi, sekadar menghibur.Sebenarny a, memiliki perbendaharaan dan frame positif tentang kegagalan merupakan salah satu benteng kokoh menghadapi serangan ‘virus kegagalan’ dalam hidup kita. Sejarah mempunyai 1001 bukti. Banyak tokoh dunia sukses bukan karena mereka tidak pernah gagal.


Tetapi, bagaimana mereka merespons, berpikir, bertindak, dan menyikapi kegagalan itulah yang justrumengantarkan mereka pada puncak kesuksesan. Jatuh bangun adalah proses biasa dalam meraih kesuksesan. Seperti puncak gunung tak akan dicapai tanpa melalui jalan naik-turun nan terjal. Bahkan, belukar dan kebuntuan jalan.Setiap dari kita, termasuk Anda, perlu memiliki sebuah perbendaharaan atau pun referensi yang bisa kita jadikan pegangan saat mengalami kegagalan. Winston Churchill, misalnya, ia mengaku doyan membaca biografi tokoh terkenal saat semangatnya sedang turun. Buku itu membuat semangatnya bangkit.


Ia merasa diteguhkan saat dirinya lemah dan tak berdaya.Tak heran, salah satu nukilan pidatonya yang populer Never give up bisa jadi berasal dari penggalian inspirasi buku-buku itu. Memang, semangat itu menular seperti layaknya kemalasan juga sering menular.Janganlah jemu menimba energi-energi positif dari banyak hal, termasuk dari bacaan. Kali ini, ada referensi menarik dari Joey Green dalam tulisannya berjudul The road to success is paved with failure. Tulisan Joey Green ini menjadi inspirasi penting untuk menghadapi kegagalan. Green berhasil menuliskan berbagai kisah maupun daftar orang yang sukses secara luar biasa setelah mengalami berbagai kekalahan pahit.


Di bidang bisnis, Joey Green memberi contoh kisah Walt Disney yang sempat saya singgung pekan lalu. Perusahaan animasi pertama Disney pernah pailit. Tapi, Disney mampu bangkit dan betapa besar bisnis hiburan yang ditawarkan dunia Disney sekarang ini. Ada juga Tom Monaghan. Dalam 20 tahun usahanya, ia bangkrut dua kali. Ia kehilangan hak kendali atas bisnisnya. Ia juga dituntut atas pelanggaran hak cipta. Namun, belakangan bisnisnya malahmeroket dengan Domino’s Pizza-nya. Ada lagi Fred Smith, orang yang hanya mendapat C dalam salah satu proyeknya di Yale saat menuliskan idenya tentang jasa pengiriman semalam. Tapi, nilai itu tidak sebanding dengan Federal Express,industri raksasa pengiriman barang yang mendunia. Padahal ide itu pernah diacuhkan oleh gurunya. Demikian juga perusahaan minuman Coca-Cola. Pada tahun pertama, Coca-Cola hanya mampu menjual 400 botol.


Tapi, sekarang Coca-Cola ada di mana-mana. Bahkan, tidak ada satu daerah pun yang tidak pernah kemasukan penetrasi Coca-Cola. Bahkan, gelombang Coca-Cola menjadi simbol nyata globalisasi yang sedang berlangsung. Alami penolakan Sementara itu, Chester Carlson mencoba temuannya ke sekitar 20 perusahaan pada tahun 1940-an. Setelah bertahun-tahun mengalami penolakan, ia berhasil meyakinkan Haloid, perusahaan kecil diRochester. Haloid kemudian menjadi salah satu perusahaan raksasa untuk mesin fotokopi elektrostatik bernama XEROX Corporation.


Ada lagi Henry Ford. Dalam tiga tahun pertama membangun bisnisnya di bidangotomotif, Ford bangkrut dua kali. Namun, kegigihannya membuatnya dikenal dengan simbol mobil-mobil mewah bergengsi. Selain di bidang bisnis, Joey Green memberi contoh di bidang kesusastraan, perfilman, olah raga, dan nyanyian. Sebut saja Elvis Presley.




Gurunya pernah memberinya nilai C dengan nada menghina saat ia duduk di L.C. Humes High School di Memphis. Guru itu mencap dirinya sama sekali tidak bisa bernyanyi. Tapi, kini Elvis Presley menjadi penyanyi legendaris. Ada Michael Jordan yang pernah ditolak saat mau bergabung dengan klub basket sekolahnya.Tapi, Jordan pun jadi ikon bola basket legendaris. Beatles juga pernah ditolak pada 1962 oleh dapur rekaman Decca, Pey, Philips, Columbia, dan HMV Labels. Juga Sigmun Freud yang buku karyanya hanya laku 600 buah dengan hanya mengantongi royalty US$250.


Tapi, Freud dikenang sebagai Bapak Psikologi ternama. Aktor Sylvester Stallone semasa kecil pernah dikeluarkan dari 13 sekolah dalam rentang 11 tahun. Profesornya di Universitas Miami mengolok-olok dirinya tidak berbakat akting. Ia juga manjadi bahan tertawaan saat memainkan peran di film Dog Day Afternoon, Serpico, dan The GodFather.


Naskah filmnya Rocky ditolak oleh nyaris semua perusahaan. Tapi, sebuah perusahaan menerimanya dengan syarat Stallone tidak boleh main di dalamnya. Ada lagi Rudyard Kipling. Ia pernah menulis cerita dan mengirimkannya ke sebuah surat kabar di California pada 1888. Tapi, sang editor menolak. “Maaf Mr. Kipling. Anda tampaknya tidak tahubagaimana menggunakan bahasa Inggris dengan baik,” kata editor itu. Belakangan, ia merupakan salah satu peraih nobel di bidang sastra pada 1907.Nah, masih banyak contoh lainnya.


Anda pun bisa melihat sendiri orang-orang serupa di sekitar Anda. Ada satu benang merah yang menarik. Saat Anda mengalami kegagalan, jangan kalang kabut. Janganbiarkan energi Anda habis terkuras hanya karena terbekap kegagalan. Sungguh sangat arogan jika kita selalu berharap semua berjalan mulus tanpa kendala. Ambillah medali kemenangan dari setiap kegagalan yang kita alami. Kita tidak mungkin sukses tanpa memiliki keberanianuntuk gagal.Lihatlah mereka yang sukses itu. Mereka melewati berbagai tantangan dan kesulitan dengan jiwa besar. Kegagalan paling buruk adalah mereka yang mencoba, lalu kalah dan menyerah.


Dag Hammarskjold pernah bilang, jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum Anda mencapai puncaknya. Karena, Anda kemudian akan melihat betapa rendahnya gunung itu. Tak ada kata menyerah!

Sumber: Belajar dari kegagalan oleh Anthony Dio Martin

Inspirasi "Zang Da"


Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka, merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. 


Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China . Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da. 


Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa. Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang, dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luar biasa tersebut, maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.


Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang yang pasti tidak murah untuk dia. 


Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah. Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. 


Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.


Zhang Da Merawat Papanya yang Sakit.


Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggung jawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggung jawabnya sehari-hari.


Zhang Da menyuntik sendiri papanya.


Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. 


Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi,  yang saya tahu hanya Zhang Da. Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.


Aku Mau Mama Kembali.


Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara bertanya kepadanya, “Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” 


Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, “Sebut saja, mereka bisa membantumu” Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, “Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!” demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap. 


Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya. Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.


Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yang istimewa untuk menjalani ujian di dunia. Sehebat apapun ujian yang dihadapi pasti ada jalan keluarnya…ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan dan Allah tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan umat-Nya. Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami kekalahan…. bangkitlah!!! karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yang telah berusaha sekuat kemampuannya..

Senin, 30 Januari 2012

Inspirasi "Kekuatan Tekad"


Gedung sekolah desa yang kecil itu dipanasi oleh perapian batu bara kuno yang berbentuk belanga. Seorang anak laki-laki kecil bertugas untuk hadir pagi-pagi sekali di sekolah untuk menyalakan api serta menghangatkan ruangan sebelum guru dan teman-temannya masuk.

Pada suatu pagi gedung sekolah itu tertelan api. Anak laki-laki itu pingsan dan ia pun ditarik keluar dari bangunan yang terbakar itu, dalam keadaan setengah mati dan bukannya setengah hidup. Ia mengalami luka bakar yang parah di seluruh bagian bawah tubuhnya dan dibawa ke rumah sakit daerah yang terdekat.

Dari tempat tidurnya, si anak laki-laki yang terbakar secara mengerikan itu dalam keadaan setengah sadar sayup-sayup mendengar dokter berbicara kepada ibunya. Dokter memberitahu bahwa anak itu pasti akan mati, yang sesungguhnya merupakan hal yang terbaik, lantaran kebakaran hebat yang meluluhlantakkan bagian bawah tubuhnya.

Namun anak pemberani itu tidak ingin mati. Ia meneguhkan tekadnya untuk tetap bertahan hidup. Entah dengan cara bagaimana, hal yang mencengangkan dokter itu, ia terus hidup. Ketika bahaya maut itu berlalu, ia sekali lagi mendengar dokter dan ibunya berbicara dengan pelan. Ibunya diberitahu bahwa karena kebakaran itu menghancurkan begitu banyak daging di bawah tubuh anak itu, dapat dikatakan bahwa akan lebih baik jika ia mati, karena ia pasti akan lumpuh seumur hidup dan tak dapat memanfaatkan semua anggota tubuh bagian bawahnya.

Sekali lagi si anak pemberani itu mengeraskan tekadnya. Ia tidak akan lumpuh. Ia akan berjalan. Tetapi celakanya, dari pinggang ke bawah, ia tidak memiliki kemampuan bergerak. Kaki-kakinya yang kurus hanya terjuntai di sana, lengkap namun mati.

Akhirnya ia keluar dari rumah sakit. Lalu setiap hari ibunya memijat kakinya yang kecil itu, namun di sana tidak ada rasa, tidak ada kontrol, tidak ada apa pun. Namun niatnya untuk berjalan tetap sekuat dulu.

Hari-harinya menjemukan. Bila tidak sedang berada di tempat tidur, ia terkurung di kursi roda. Pada suatu hari yang cerah ibunya mendorong kursi rodanya keluar menuju halaman agar ia dapat menghirup udara segar. Hari itu, bukannya duduk terpaku di situ, ia melemparkan diri dari kursi roda. Ia menyeret dirinya sendiri melintasi rerumputan, menarik kedua kakinya di belakang tubuhnya.

Ia menyusuri jalannya menuju tiang pancang berwarna putih yang membatasi bidang tanah mereka. Kemudian, sedikit demi sedikit, ia mulai menyeret dirinya sendiri di sepanjang pagar itu, bertekad keras untuk berjalan. Ia mulai melakukan hal ini setiap hari sampai saat ia menggunakan jalan yang mulus di sekeliling halaman di sisi tiang pancang itu. Tak ada hal yang diinginkannya selain menghidupkan kedua kakinya.

Akhirnya melalui pijatan setiap hari, tekad bajanya dan keteguhan hatinya, ia benar-benar mengembangkan kemampuannya untuk berdiri, kemudian untuk berjalan tertatih-tatih, lalu untuk berjalan sendiri, dan kemudian untuk berlari.

Ia mulai berjalan ke sekolah, kemudian berlari ke sekolah, berlari demi kegembiraan besar yang diperolehnya dari berlari. Kemudian di universitas ia membentuk tim lari.

Bahkan selanjutnya di Madison Square Garden pemuda yang diduga tidak bakal hidup itu, yang tidak pernah dapat berharap untuk bisa berlari, pemuda yang keras hati ini, Dr. Glenn Cunningham, memecahkan rekor dunia lari untuk jarak 1500 meter.


Burt Dubin
Editor: Jack Canfield, Mark Victor Hansen; "Chicken Soup for the Soul"

Jumat, 27 Januari 2012

Cerita Inspirasi : Tidak Ada Yang Tak Mungkin


ku adalah seorang mahasiswa Indonesia yang bersekolah di Universitas California. Beberapa waktu lalu, aku pernah menulis surat yang berisi cerita cerita terima kasih kepadaorang tua ku, dan ketika aku memutuskan untuk memperlihatkannya pada dunia, ternyata cerita inspirasi tersebut mendapatkan tanggapan yang luar biasa dari orang-orang di Eropa, India, Singapura, Amerika, dan Indonesia. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih atas semua respon yang aku dapat atas surat tersebut.

30 April 2010.
Setelah penantian yang panjang dan mendebarkan, akhirnya kelulusan itu pun diumumkan. Aku diterima di Haas School of Business, University of California Berkeley. Hal ini sebuah pencapaian dan kebanggaan yang luar biasa bagiku dan juga kedua orang tuaku, pencapaian ini adalah hasil kerja keras yang telah aku lakukan selama 2 tahun terakhir ini.

5 tahun yang lalu, tidak seorang pun, bahkan tidak juga orang tuaku, guru-guru dan teman-temanku yang berpikir bahwa aku dapat masuk ke dalam salah satu dari 10 sekolah bisnis terbaik di Amerika, apalagi Berkeley Haas School of Business. Saat ini, sekolah ini menduduki peringkat ke-2 di Amerika berdasarkan Best Colleges Specialty Rankings: Best Undergraduate Business Programs.

5 Tahun lalu, “Nilai A” hanyalah sebuah mimpi bagi anak sekolah biasa seperti aku. Sebagian besar nilai-nilaiku di sekolah adalah C, diikuti dengan B kecil, dan D.  Cara belajar ku sangat kacau. Di sekolah menengah, aku hanya menempati peringkat 186 dari 198 siswa. Yang berarti aku masuk 10% peringkat terbawah dari seluruh sekolah.

Beruntungnya, aku punya orang tua yang mampu menginspirasi dan mengubahku. Aku masih dapat mengingat dengan jelas kejadian di malam itu. Waktu itu, aku pulang ke Indonesia dan berada di kamar orang tuaku. Kedua orang tuaku duduk di tepi tempat tidur dan aku duduk di lantai. Mereka benar-benar terlihat kecewa. Malam itu, mereka mulai membuatku berpikir mengenai apa yang aku inginkan bagi masa depanku. Mereka tidak memarahiku, tidak berteriak kepadaku, dan juga tidak memukulku. Mereka hanya memperlihatkan kekecewaan atas buruknya prestasiku di sekolah.

Bagi orang tuaku, pendidikan sangatlah penting demi masa depan. Sebagai orang tua, mereka telah terus-menerus memperingatkan aku untuk belajar. Tetapi, jarak telah memisahkan kami -  aku tinggal di Singapura bersama kakak-kakakku, sedangkan orang tuaku tinggal di Indonesia untuk menjalankan bisnisnya. Hal ini tentu saja membuat kedua orang tuaku kesulitan untuk mengawasi kami.

Dengan komunikasi yang hanya melalui telepon dan sms, tentu sulit bagi kedua orang tuaku untuk mengetahui apakah aku “benar-benar belajar” jika aku berkata sedang “belajar”. Sulit bagi mereka untuk mengetahui bahwa “benar-benar tidak ada ujian” jika aku bilang “tidak ada ujian”, dan apakah aku benar-benar “tidak sedang main game” jika aku bersikeras berkata tidak sedang bermain game komputer. Mereka benar-benar tidak tahu cara belajar yang aku terapkan.

Aku kembali ke kamarku dan mulai membayangkan hidup seperti apa yang telah aku jalani. Lalu aku teringat Jerry, kakak tertuaku yang sekitar 20 tahun lalu menderita kanker. Ia masih sangat kecil waktu itu,  usianya baru 2 tahun. Sayangnya, saat itu kedua orang tuaku tidak berkecukupan. Maka demi kelangsungan hidup kakakku, kedua orangtuaku menjual rumah, mobil dan segala yang mereka miliki untuk biaya berobat Jerry. Bahkan, setelah mengusahakan segala upaya dan telah kehilangan banyak harta benda, orang tuaku pun masih harus menghadapi kenyataan hilangnya anak pertama mereka.

Tetapi hal itu tidak pernah membuat kedua orang tuaku menyerah. Mereka memang pernah mengalami masa-masa hancur dan sedih. Dan, yang menakjubkan adalah mereka mampu kembali percaya diri, tekun, dan optimis  memulai hidup baru.
Ayahku adalah seorang lulusan MBA dan ibuku bergelar sarjana. Tetapi mereka pernah menjadi pengangguran dan miskin. Mereka harus mau berjalan jauh untuk menjual teh botol dan makanan kecil di pasar demi memenuhi kebutuhan hidup. Tidak lama kemudian, mereka mulai membuka warung makan dan tetap yakin bahwa mereka akan mendapatkan masa depan yang lebih cerah.

Kini, setelah bertahun-tahun, akhirnya mereka memiliki bisnis yang sukses dan mampu mengirim ketiga anak mereka ke Amerika untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Jika saja saat itu orang tuaku mengakui kekalahan mereka dan menyerah, tentunya saat ini aku tidak akan mempunyai kesempatan untuk kuliah, atau tinggal dibawah atap rumah yang terbuat dari batu bata, atau memiliki sebuah mobil untuk dikendarai.

Jika saja orang tuaku menyerah, aku pasti akan tinggal di jalan dan mencari-cari cara untuk tetap bertahan hidup seperti pemandangan khas yang sering ditemui di jalanan kota-kota besar di Indonesia. Pada saat kakakku Jerry meninggal, mereka hampir tidak memiliki apapun, tidak ada uang, mobil, ataupun rumah.  Tidak satu pun! Kecuali semangat dan dorongan untuk berubah.

Ayah… ibu… jika bukan karena kalian berdua yang mengubah hidup anakmu, mungkin aku tidak akan pernah mempunyai kesempatan hidup berkecukupan. Sekarang, aku tidak perlu lagi berpikir tentang makanan, bahkan orang tuaku memberikan sebuah mobil dan menyediakan pendidikan terbaik untukku.

Inilah yang menjadi alasan mengapa sekitar 3 tahun setelah aku berada di peringkat 10% terbawah di sekolah menengah, aku datang ke perguruan tinggi di Amerika dengan prinsip bahwa tidak ada hal yang mustahil. Memang, “tidak ada hal yang mustahil” adalah kata-lata yang usang, namun jika mengingat cerita orang tuaku yang berhasil bangkit setelah keterpurukan, maka kata-kata itu bisa dipercaya. Aku mulai mengubah diri dan mempunyai satu tujuan agar dapat diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia untuk menunjukkan rasa terima kasihku kepada orang tua.

Aku sama sekali tidak gentar walau hanya 6,8% dari pendaftar yang akan diterima menjadi anak sekolah di Haas School of Business, dan keinginan yang luar biasa untuk sukses menjadi salah satu faktor yang membuatku menjadi satu dari tujuh orang yang diterima untuk setiap 100 orang pendaftar.

Dan sekarang aku ingin mendedikasikan pengakuanku ini kepada orang tuaku. Orang tua yang paling hebat yang telah mengubah hidupku. Aku tidak tahu akan menjadi apa jika tanpa mereka berdua. Terima kasih Ayah. Terima kasih Ibu. Aku berhutang sangat banyak kepada kalian dan aku tidak dapat membayangkan apakah aku mampu untuk membalasnya.

Kepada para sahabat yang sedang membaca CeritaInspirasi.net , ingatlah bahwa keadaan yang kita miliki sekarang tidaklah mencerminkan apa yang akan terjadi di masa depan. Seperti yang terjadi pada diriku. Aku mampu menjadi salah satu yang terbaik walaupun aku pernah berada di peringkat terbawah. Aku yakin, semua itu membutuhkan dorongan dan ketekunan, sama seperti seorang yatim piatu yang kukenal – yang berhasil menduduki peringkat 5% teratas dari kelasnya, padahal ia tidak memiliki meja atau kursi, atau bahkan kebutuhan sekolah yang memadai. Ia hanya memiliki semangat yang membara untuk mengubah masa depannya.

Berjanjilah kepada diri sendiri untuk mendapatkan masa depan yang lebih cerah!
——————————
Great Thanks for Leonhartono (leonhartono@berkeley.edu) yang telah bersedia membagi pengalamannya pada CeritaInspirasi.net ..  Semoga bisa menjadi cerita inspirasi bagi sahabat-sahabat semua.. ^^


Selasa, 24 Januari 2012

Cerita Inspirasi : Hidup Yang Membosankan

Seorang pria mendatangi Sang Master, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati”.

Sang Master tersenyum, “Oh, kamu sakit”.   “Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan ini. Itulah sebabnya saya ingin mati”.  Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya. Sang   Master meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan”.

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma-norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. 

Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. 

Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, dan yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari tentang sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita…

“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjuk-ku”. Demikian Sang Master menyarankan.

“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh”. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran Sang Guru.

“Jadi kamu tidak ingin sembuh?? “ Kamu betul-betul ingin mati?”  tanya Sang Master.

“Ya, memang saya sudah bosan hidup”, pria itu kukuh menjawab.

“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.” Perintah Sang Master.  Giliran pria tersebut bingung. Setiap Master yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Sang Master EDAN itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai !!!
Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. 

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarganya di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir ini malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya pun menjadi santai banget !
Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu. “Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!”

Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!!

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Boss kita kok aneh ya ?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis !!

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.

Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.”  Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami.”   Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?

Ia mendatangi Sang Master lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya Sang Master langsung mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh?? Apa bila kau hidup dalam ke-kini-an, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan ini !!!

Leburkan egomu, leburkan keangkuhanmu, leburkan kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air, dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan pernah jenuh, tidak akan pernah bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan ...

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam ke-kini-an. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !!!

Hidup bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul tapi merupakan suatu anugerah untuk dinikmati. “Anda tidak akan pernah menang jika Anda tidak pernah memulai.”

Sabtu, 21 Januari 2012

Cerita Inspirasi : Kisah Si Kembar


wanita muda atau ibu tua ?
itulah cara pandang anda
Ada dua orang anak kembar namun keduanya tidak pernah akur satu sama lain. Tiap hari selalu bertengkar dan berselisih paham tentang banyak hal. Yang satu bernama Gagah, selalu menganggap kalau film kartun adalah film yang asyik untuk ditonton dan lebih menghibur ketimbang film action.

Sementara, kembarannya, Teguh, selalu bilang kalau film kartun adalah film anak-anak yang suka mengkhayal dan tidak berani menghadapi kenyataan. Pendapat ini timbul karena Teguh lebih suka dengan film action yang dibintangi oleh Arnold Swazeneger. Begitu seterusnya, mereka sama-sama tidak mau menghargai kesukaan masing-masing.

Perselisihan ini tidak hanya terjadi di rumah, tapi juga di sekolah, tempat bermain, dan tempat-tempat umum yang seringkali mengganggu kenyaman karena mereka seringkali saling berteriak. Kalau sudah begitu jadi membuat malu orangtua dan merepotkan sekali.

Suatu hari orangtua mereka yang sudah kewalahan menghadapi si kembar meminta pertolongan guru sekolahnya. Pagi berikutnya, sang guru meminta keduanya masuk ke dalam dua ruangan yang berbeda yang hanya dipisah oleh sebuah dinding. Sementara sang guru masih bisa melihat mereka dari kejauhan.

Dalam ruangan itu ada meja dengan sehelai kertas di atasnya. Ibu guru meminta keduanya menyebutkan apa warna kertas itu. lagi-lagi mereka berselisih paham. Teguh bilang, “Kertas itu putih!” Dari ruangan sebelahnya terdengar teriakan. “Bukan! Bukan putih! Kertas itu hitam!”
“Puith! Hitam! Putih!!!! Hitam!!!!” Terdengar suara saling bersahutan. Suara mereka semakin riuh. Perdebatan keduanya pun semakin sengit. “Apa kamu buta warna?! Kertas itu Hitam!” Teguh tak mau kalah. “Buta warna? Kamu bodoh atau apa sih?! Jelas-jelas ini kertas putih bukan hitam!”

Mendengar itu semua, ibu guru lantas berkata,”Tenang anak-anak. Sekarang coba kalian kemari menghadap ibu guru.” Kedua anak itu menghampiri ibu guru. “Nah, sekarang kalian bertukar tempat. Teguh ke ruangan Gagah. Dan Gagah ke ruangan Teguh.”

Keduanya menuruti kata-kata ibu guru. Dari ruangan yang satu terdengar suara Gagah,”Hmm. Hihi..hihiii…kertasnya putih, bu.” Sementara di ruangan Teguh.”Hitam, bu.”

Mereka benar. Ibu guru memang menyiapkan dua kertas yang berbeda.

Dari cerita ini dapat diambil sebuah hikmah bahwa terkadang ketika dua orang berselisih paham, bisa jadi sesungguhnya keduanya benar. Tak ada yang salah dengan pendapat mereka masing-masing hanya saja mereka melihat dari sudut pandang yang berbeda.

Pelajaran untuk kita semua. Kita sering berseteru dalam banyak hal dan kondisi. Tak ada yang mau mengalah dan mencoba memahami. Terkadang kita hanya mau melihat pendapat diri kita sendiri yang sepertinya selalu benar.

Namun, bila orang lain memandang sesuatu yang sama dengan caranya yang berbeda tak ada salahnya mencoba memahami dan menyikapi perbedaan pendapat dengan cara yang bijaksana. Dengan mau mencoba mendengarkan pendapat yang lain dan tidak egois mengingat kita harus bisa lebih bersatu dalam banyak hal.

Jumat, 20 Januari 2012

Cerita Inspirasi : Kekuatan Pikiran


Suatu hari, seorang guru dan muridnya tiba di sebuah kota besar. Mereka tidak memiliki uang, tapi mereka membutuhkan makanan dan tempat tinggal. Murid yakin bahwa mereka akan mengemis untuk makanan mereka, dan tidur di taman pada malam hari.

"Ada sebuah taman besar tak jauh dari sini
. Kita bisa tidur di sana di malam hari.", Kata murid.

"Di udara terbuka?" Tanya guru.

"Ya", jawab murid.

Guru tersenyum dan berkata: "Tidak, malam ini kita akan tidur di hotel dan makan di sana juga".

Murid  itu takjub dan berseru, "Kita tidak mampu!"

"Kemarilah dan duduklah," kata guru.

Mereka berdua duduk di tanah, dan guru mengatakan: "Ketika Anda memfokuskan pikiran Anda penuh perhatian atas masalah apapun, semua akan teratasi."

Guru memejamkan mata dan mulai bermeditasi dengan konsentrasi penuh. Setelah sekitar sepuluh menit ia berdiri dan mulai berjalan, dengan muridnya mengikutinya. Mereka berjalan melalui beberapa jalan dan gang-gang, sampai mereka tiba di hotel.

"Ayo, mari kita masukkan dalam",
guru berkata kepada muridnya.

Mereka hanya menginjakkan kaki di pintu masuk, ketika seorang pria berpakaian rapi mendekati mereka.

"Saya manajer dari hotel ini. Kau tampak seperti
pengembara bepergian, dan saya percaya Anda tidak memiliki uang Apakah Anda. Ingin bekerja di dapur, dan sebagai imbalannya aku akan memberikan makanan dan tempat tinggal?"

"Baik
,”  guru menanggapi.

Murid bingung dan bertanya
kepada guru : "Apakah kau menggunakan sihir? Bagaimana Anda melakukan itu?"

Guru tersenyum dan berkata, "Saya ingin menunjukkan Anda bagaimana kekuatan pikiran bekerja. Ketika Anda berpikir dengan penuh konsentrasi dan kuat tentang sesuatu yang Anda inginkan terjadi, Dan batin  Anda tidak menahan subjek pikiran Anda, pikiran Anda terwujud. "

"Rahasianya adalah berkonsentrasi, visualisasi, melihat rincian, memiliki iman dan memproyeksikan energi mental dan emosional ke dalam adegan jiwa
. Ini adalah prasyarat umum. Ketika Batin Anda kosong dari pikiran, dan hanya satu pikiran tunggal yang diperbolehkan masuk, itu menghasilkan kekuatan yang sangat besar. Salah satu harus sangat berhati-hati dengan apa yang dia pikir. Sebuah pikiran terkonsentrasi sangat kuat, dan memberikan pengaruh yang sangat kuat.. "

Murid memandang gurunya dan berkata: ". Saya melihat bahwa saya harus mempertajam konsentrasi saya untuk dapat menggunakan kekuatan ini"

"Ya, ini adalah langkah pertama",
jawab guru.

Kamis, 19 Januari 2012

Cerita Inspirasi : Batin dan Lautan Berombak


Swamiananda dan muridnya Ranga, sedang berjalan di pantai laut. Ini adalah hari yang dingin dan angin bertiup kencang di atas lautan, mengangkat gelombang sangat tinggi.
Setelah berjalan selama beberapa waktu, Swamiananda berhenti, memandang muridnya dan bertanya: "Apa laut berombak mengingatkan Anda?"

"Ini mengingatkan saya pada batin saya. Kesibukan dan pikiran gelisah", jawab Ranga.

"Ya, badai laut adalah seperti Batin, dan gelombang adalah pikiran. Batin adalah netral seperti air. Hal ini tidak baik, atau buruk. Angin yang menyebabkan gelombang, sebagaimana keinginan dan ketakutan menghasilkan pikiran", kata Swamiananda.

"Saya tidak ingin berada di perahu, di tengah laut, dalam badai seperti ini", kata Ranga.

"Anda berada di sana sepanjang waktu." Swamiananda menanggapi dan melanjutkan, "Kebanyakan orang di atas kapal tanpa kemudi di tengah samudra berombak, bahkan ketika mereka tidak menyadari hal tersebut, batin kebanyakan orang sangat gelisah … Pikiran dari semua jenis datang dan pergi tanpa henti, mengagitasi batin seperti gelombang laut. "

"Ya", Ranga memotongnya, "Kau tidak perlu memberitahu saya ini adalah alasan saya dengan Anda … Aku ingin menenangkan gelombang batin saya."

Swamiananda memandang Ranga untuk sementara waktu, tersenyum dan berkata: "Anda tidak menenangkan laut dengan menahan air dan tidak membiarkannya bergerak. Apa yang penting adalah untuk menghentikan angin. Angin terbuat dari pikiran Anda, keinginan dan ketakutan.. Jangan biarkan mereka mengatur hidup Anda. Belajarlah untuk mengendalikan mereka dengan mengendalikan perhatian Anda, dan kemudian lautan batin Anda menjadi tenang. "

"Dan bagaimana saya melakukannya?"

"Misalkan adalah mungkin untuk mengabaikan angin laut, apa yang akan terjadi kemudian?" tanya Swamiananda.

"Gelombang akan berhenti. Namun, tidak ada yang bisa menghentikan angin.."

Swamiananda menatapnya dengan senyum misterius dan berkata: "Mengapa tidak?  Angin, laut, dan pikiran-pikiran, semua dalam batin. Ketika Anda dapat mengendalikan batin, Anda dapat mengendalikan segala sesuatu di dalamnya. Tapi pertama-tama Anda harus mengendalikan Batin Anda, yang berarti Anda harus mengendalikan perhatian Anda. "

"Ya tuan", kata Ranga, "ini adalah apa yang saya coba lakukan,  Anda mengatakan siapa pun yang mengendalikan batin juga dapat mengontrol angin.. Dapatkah Anda melakukan itu?"

"Pertama belajar untuk menenangkan lautan batin Anda, dan kemudian mencari tahu apakah Anda bisa menenangkan laut. Lebih baik belajar untuk mengendalikan batin, daripada menikmati trik mental ... Ketika Anda menenangkan batin Anda, Anda bisa tenang segalanya."

Rabu, 18 Januari 2012

Cerita Inspirasi : Si Otong


Si Otong mendapat tugas dari gurunya mengenai membuat cerita mengenai mimpi-mimpinya dan saat dirumah si Otong membuat cerita mengenai mimpi-mimpinya itu. Karena ayahnya seorang penoreh karet miskin yang keluarganya itu sangat kekurangan si Otong terobsesi dan memiliki mimpi bahwa dia bila sudah besar nanti memiliki kebun karet yang memiliki luas sebesar 400 hektar dan rumah sebesar 400 meter persegi. Intinya dalam karangannya tadi dia membicarakan mengenai impiannya membuat sebuah kebun karet yang sangat besar, tanpa terasa karangannya tadi menghabiskan 7 helai kertas. Paginya ia pun langsung menumpuk tugasnya tersebut.

Setelah 1 minggu berlalu dan akhirnya Tugas tersebut dibagikan dan diberikan nilai. Tapi betapa kagetnya Otong karena karangannya mendapatkan nilai F dan di tulisi sama gurunya setelah jam pelajaran temui saya di kantor. Saat di kantor Otong dimarahi habis-habisan oleh gurunya karena karangannya tidak masuk akal dan tidak akan tercapai.”Otong, kamu itu sudah gila, kamu itu hanya anak seorang penoreh karet miskin dan tak mungkin kamu akan membangun kebun karet sebesar 400 hektar,” kata si guru. ”Kamu saya beri waktu 1 minggu untuk mengganti karangan tersebut dan nilaimu juga bisa saya ganti bila kamu mengarang karangan yang lebih logis dan masuk akal,” kata guru itu lagi.

Lalu setelah Otong pulang ke rumah bertanya pada ayahnya. “Ayah saya memiliki mimpi mengenai membangun kebun karet seluas 400 hektar tapi kata guru saya mimpi itu tak akan pernah tercapai dan hanyalah omong kosong belakang karena saya hanyalah anak seorang yang miskin lalu saya disuruh mengganti mimpi saya itu menjadi mimpi yang lain yang sesuai dan masuk akal,” kata si Otong. ”Nak mimpimu adalah masa depanmu jadi terserah kamu, kamu mau menggantinya atau tidak ,“ jawab ayah si Otong dengan bijaksana dan sabar. “Baiklah ayah terima kasih atas pendapat ayah,” kata si Otong.

Setelah di sekolah pun si Otong tetap membawa karangannya yang dulu yang bercerita tentang kebun karet seluas 400 hektar dan dikumpulkan lagi kepada gurunya namun ada tulisannya biarkanlah nilai F tetap terpajang menjadi nilaiku namun inilah impianku tidak akan pernah bisa tergantikan dengan impian yang lainnya.

Setelah berpuluh puluh tahun berlalu si Otong akhirnya beranjak dewasa dan dia akhirnya bisa menggapai mimpinya yang mempunyai peternakan kuda dan memiliki kebun karet sebesar 400 hektar dan rumah sebesar 400 meter persegi. Saat gurunya datang ke tempat kebun karetnya dan bertemu dengan Otong ia berkata, “kamu hebat nak, maafkan aku bila dulu telah melarangmu bermimpi seperti ini aku salut padamu aku hanyalah seorang guru yang hanya bisa merenggut mimpi-mimpi anak-anak sepertimu,” kata si guru pada Otong.

Dalam cerita tersebut jelas sudah bagaimana mimpi merupakan inspirasi untuk bisa maju lebih ke depan. Kita tinggal memilih menjadi seperti Otong si pemimpi yang berusaha mengejar mimpi ato guru yang suka merenggut mimpi seseorang.